Selasa, 15 September 2015

ABDUCTION

Jika kau mengukur kebosanan hidup berdasarkan skala 1-10, maka aku berada di skala 20. Benar sekali, tidak ada yang bisa mengukur kebosanan hidupku didunia ini. Aku hanya selalu merasa---atau berkhayal bahwa sebenarnya aku tidak cocok hidup di dunia ini. Aku adalah sulung dari 3 bersaudara. Orang tuaku benar-benar membuat darahku naik setiap harinya dengan tingkah mereka yang sulit diterima oleh orang normal. Begini, yeah.. aku tidak membenci mereka namun aku bosan hidup dengan mereka. Benar-benar bosan. Aku tidak bisa bebas. Aku selalu diawasi. Keadaan rumah selalu ribut. Aku mempunyai seorang adik perempuan dan laki-laki yang ingin sekali kugantung di pohon willow ditengah padang. Selalu berkelahi dan berebut barang apapun yang bisa mereka berdua rebutkan. Jika sudah begitu, ayahku akan berteriak. Teriakan yang sangat nyaring hingga pernah di suatu malam yang penuh badai petir, ia berteriak pada kedua adikku, hebat sekali hingga suara petir itu teredam oleh suaranya. Tiap hari aku harus bangun jam 4 pagi. Jika tidak, ayahku akan berteriak ditelingaku atau menyiramku dengan air bekas cucian. Aku harus mengepel lantai dan mengangkat karung gandum. Ayahku memiliki usaha olah gandum dan aku harus tersiksa setiap hari. Ibuku tidak kalah membosankan. Tipe wanita yang gemar sekali mengomeli atau mengomentari setiap detail kehidupanku. Aku tau mungkin maksudnya peduli pada anaknya, namun itu membuatku tidak nyaman. Ia terus menerus mengomentari aku, rambutku, nilai pelajaranku atau apapun dari diriku yang merupakan kesalahan dimatanya. Ayah dan ibuku tidak jarang berbicara betapa aku sangat menyusahkan mereka dulu, ketika aku masih bayi. Betapa aku sering sekali menangis. Heran sekali, mengingat betapa tegarnya aku sekarang. Aku hampir tidak pernah menitikkan air mata, seberapa berat dan membosankannya kehidupanku. Mungkin karena aku anak laki-laki, entahlah. Jika aku membuat kesalahan, mereka dengan sangat bersemangat mengatakan betapa menyesalnya mereka meembesarkanku. Jika sudah begitu, memang hatiku sakit, namun aku hanya bisa pergi kekamar, mengunci pintu, menatap langit-langit kamar dan merenungi nasibku. Aku heran mengapa aku lebih bersikap bosan ketimbang benci dengan mereka. Mungkin karena aku sudah kebal diperlakukan seperti ini. Disekolah pun keadaanku tidak berubah, hanya saja tidak ada yang berani menggangguku karena aku tidak suka diganggu. Aku menghabiskan waktuku disekolah dengan tidur, karena aku tidak mendapat cukup tidur dirumah. Aku selesai bekerja di pabrik gandum pukul 12 malam, dan harus bangun jam 4 pagi. Bayangkan saja. Bagaimanapun, satu-satunya hal yang bisa ku banggakan adalah otakku. Aku tidak pernah belajar, namun aku bisa selalu paham materi dengan mudah, tidak perlu memakai penjelasan guru. Dan aku selalu mencapai nilai tertinggi disekolah. Anak-anak kaya yang seharusnya bisa membayar biasa les private atau kursus khusus bahkan kalah olehku. Aku memang seorang anti-sosial. Aku hanya memiliki satu teman. Jaehyun. Diapun tak jauh beda dariku, hanya saja ia hidup sebatang kara. Orangtuanya tak tau dimana. Dia dibesarkan di panti asuhan dan menemukan fakta bahwa dulunya ia ditemukan di tong sampah. Kami menghabiskan waktu dengan berjalan jalan dihutan, tidur diatas pohon, berkelana hingga sore dan yang pasti mengunjungi si tua Bolg. Ia adalah seorang kakek tua yang hidup ditengah hutan. Awalnya ia membuat kami takut dengan janggut panjangnya serta jubah coklat tuanya yang sudah bertambal dimana mana dan dipenuhi bau tikus. Namun lama kelamaan, ia menjadi teman kami, berawal dari tragedi di sungai. Aku bisa mati tenggelam seandainya ia tak menyelamatkanku. Hanya dengan Jaehyun dan Bolg lah aku bisa menampilkan tawa dan senyumku. Sebagian besar wajahku hanya ditampilkan dengan muram, tak bersemangat, seakan tak berjiwa dan selalu menatap orang dengan pandangan malas.

Pagi itu pagi pertama di liburan musim panas. Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi. Aku sudah selesai beraktivitas di pabrik gandum dan ayahku mengizinkan aku pergi dengan geraman serta teriakan keras agar aku kembali sebelum petang. Bagaimanapun mereka memperlakukanku, mereka tidak ingin aku mati, tentu saja. Biaya kematian sangat mahal. Setelah menyiapkan sebotol air yang kusematkan ditas, aku masih harus mendengar omelan ibu tentang betapa lusuhnya rambutku sebelum aku akhirnya bisa dilepas dengan tenang. Aku berjalan dengan terburu-buru. Bolg sudah berjanji akan menunjukkan kami (aku dan Jae) sesuatu yang luar biasa. Entah apa itu. Dia hanya berpesan agar kami memakai sepatu dan membawa ransel. Aku bertemu Jae tepat ditengah hutan. Kami bercerita banyak sembari memakan sandwich yang sudah dipersiapkan Jae. Masing-masing kami benar-benar tidak sabar menanti petualangan.

Bolg tengah merebus sesuatu di ketel diatas perapiannya ketika kami masuk. Rumah Bolg hampir mirip istal kecil namun lebih besar. Atapnya terbuat dari jerami. Ia menawari kami sandwich rusa namun kami menolak dengan berkata sudah makan. Memakan masakan Bolg bukanlah sesuatu yang bisa dibilang bijaksana.

“apa itu, Bolg?” tanyaku mendekatkan diri ke ketelnya. Didalam sana, sebuah benda yang mirip bola kasti berjumlah 3 buah sedang bergemeletuk.

“ini telur unicorn” jawab Bolg dengan seringai riang.

Aku dan Jae mengeryitkan dahi tanda tak mengerti. Bolg mengerti itu
.
“ah, maafkan. Harusnya aku beritau kalian. Unicorn adalah makhluk sucisekaligus makhluk langka yang hidup jauh diujung sana.”

Ketika Bolg mengatakan “diujung sana” aku tau itu mungkin ribuan kilometer. Kami para manusia selama ini hidup hanya disekitar lingkungan kami dan tidak pernah mau tau menau urusan dunia luar. Dan kami tau Bolg tidak seperti manusia pada umumnya. Ia telah menjejaki banyak tana diluar sana. Ia kerap bercerita pada kami. Kami tentu saja ingin sekali mengikuti jejaknya namun ia selalu berkata kami belum siap untuk itu.

“waktu kalian telah tiba” ucapnya tiba-tiba. “aku akan membawa kalian pergi jauh, keluar dari lingkungan aman ini, namun harus kupastikan kalian memang siap. Akan ada banyak sekali kejadian berbahaya diluar sana.” Ucapnya dengan serius. Aku dan Jae mengangguk tanda mengerti.

“keadaan dunia sedang berbahaya. Para elf di timur telah memperingatkan ini sebelumnya. Seorang winged elf bertandang kerumahku semalam”
Aku dan Jae tau apa itu elf. Kami mendapat banyak informasi dari Bolg tentang dunia luar.

“baiklah, kapan kita akan pergi?” ucap Jae bersemangat.

“besok jam 5 pagi kuminta kalian sudah berada disini. Selain itu kita akan berangkat bersama satu orang lagi”

Penjelasan selanjutnya tidak masuk ketelingaku. Aku diam seribu bahasa, memikirkan caranya untuk bisa lepas dari aktivitas rutinku di pabrik gandum. Aku terbangun dari lamunanku ketika Jae menyenggolku dan berkata sebaiknya kami pergi karena hari telah malam. Bolg menawarkan kalkun dingin untuk bekal kami dalam perjalanan pulang.

Jae tidak akan punya masalah dalam keberangkatannya esok hari, tapi tidak denganku. Aku menyantap kalkun itu dan berjalan tanpa suara. Jae terus menerus berbicara dengan penuh semangat, membicarakan betapa serunya petualangan yang akan kami hadapi. Aku meresponnya dengan anggukan-anggukan kecil.

“Jae, apa kau punya ide bagaimana aku bisa melarikan diri besok? Kau tau kan keluargaku bagaimana” ucapku memotong ucapan Jae yang tengah membicarakan betapa indahnya gunung-gunung di utara, sesuai yang pernah diceritakan Bolg.

“eh? Ah benar... kau harus melewati para troll tua itu”

“jae...”

“maaf maaf... baiklah. Emm.. bagaimana ya..”

Aku mendengus pasrah. Tidak satupun ide bisa keluar dari otakku. Ayahku ketat sekali mengenai perbudakan di pabrik gandum dan aku nyaris tak bisa lepas dari itu. Kecuali kalau...........

“Aku akan ada disini jam satu pagi besok” ucapku.
“apa kau yakin? Maksudku, itu terlalu cepat” respon Jae keheranan.

“tidak... aku akan pergi ke Bolg terlebih dahulu.”

“ah tidak tidak, aku juga akan berangkat diwaktu yang sama. Kutemui kau disini jam satu lewat lima belas menit. Bagaimana, bung?”

“deal.”

Aku menghabiskan kalkunku dan kami berpisah di tepi hutan. Rumah Jae ada di lembah pegunungan dipinggiran desa sementara rumahku ada ditengah desa. Aku sampai kerumah tepat pukul 5 sore dan langsung bergerak kemeja makan. Hidangan minum teh sore itu terdiri dari pai buah dan teh chamomile. Pai buah buatan ibu tidak pernah tidak enak. Dan teh chamomile lebih baik daripada teh hijau hambar yang menjadi hidangan minum teh sore kemarin. Sore itu ayah menjelaskan bahwa desa sedang gempar dengan munculnya sosok misterius dari arah pegunungan. Teriakan ayah yang meneriaki kedua adikku tak terdengar karena aku sibuk memikirkan nasibku besok. Bagaimana bisa aku kabur dengan leluasa sedangkan desa tentunya sedang dijaga ketat seperti ini. Ayah tentunya akan dengan ketat mengawasi setiap pergerakan kami. Aku mengurung diri dikamar, sibuk dengan rencanaku dan keluar ketika dipanggil untuk makan malam. Kentang tumbuk, sup daging domba yang dicampur dengan krim susu hangat serta sosis panggang malam itu dengan cepat kuhabiskan. Ayah sedang menggerutu tentang karung gandum yang bocor tadi siang ketika aku ijin untuk tidur lebih awal. Aku menyiapkan berbagai kebutuhanku dengan pelan. Satu saja suara mencurigakan akan membuatku dikurung seharian. Mata ayah sangat jeli dalam melihat kejanggalan-kejanggalan. Entah apa yang akan diteriakkannya ketika tau aku kabur besok. Aku berusaha tidur malam itu tapi tak bisa. Bayangan petualangan yang seru menguasai pikiranku. Aku terbangun tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah satu pagi. Ayah terdengar baru saja meninggalkan toilet, berhubung pintu kamarnya baru saja ditutup. Benar saja. Aku telah memperhitungkan ini. Ayah akan terus mengawasi hingga tiba waktunya ia ke toilet dan setelah itu ia akan tidur dan tidak akan bangun hingga ayam berkokok. Aku mengendap endap keluar sepuluh menit kemudian, dengan hoodie abu-abu, celana jeans panjang, sepatu dan ransel di punggung. Arloji hitamku terpasang sempurna di pergelangan tangan kiriku. Aku mengendap tanpa suara, menuruni tangga dan melompat sebelum anak tangga terakhir, karena anak tangga itu berderit. Aku menyelinap ke dapur, mengambil kantong kulit dan mengisinya dengan beberapa gelung chistorra mentah, lima lapis ham dingin, beberapa potong pai buah, dua buah kentang rebus, beberapa apel dan terakhir kumasukkan sisa sup daging domba kedalam wadah berpenutup lalu kumasukkan lagi ke kantong kulit tadi. Aku mengisi tempat airku yang terdiri dari tiga botol, masing-masing berukuran satu liter. Setelah siap semuanya, aku mengecek arlojiku. Masih ada 10 menit tersisa. Aku makan sisa sup daging domba yang masih tersisa di panci, dan makan sebuah kentang rebus. Aku minum banyak-banyak dan ketika tiba waktunya, aku berjingkat menuju jendela didapur, membukanya sedikit, dan berhasil keluar tanpa ada hambatan sedikitpun. Lima menit kemudian aku sudah berada diperjalanan ketepi hutan. Orang-orang banyak berjaga dan butuh kesabaran untuk akhirnya bisa sampai ke tepi hutan. Aku menunggu Jae yang datang 10 menit kemudian. Ia menawariku sandwich burung dara namun aku menolaknya.

“simpan saja. Aku sudah makan” ucapku.

Kami bergerak menuju rumah Bolg dengan santai, membicarakan bagaimana aku bisa kabur dengan berhasil membawa setumpuk makanan lezat.

“kau benar tentang makanan, Byun. Kita akan sangat sangat memerlukan itu. Perjalanan ini akan jauh, kau tau.”

Aku mengangguk senang. Kami tiba di rumah Bolg sekitar pukul empat pagi. Rasanya aku bisa mendengar teriakan ayahku ketika menemukan aku tidak lagi ada ditempat tidurku. Aku tersenyum pelan sembari menunggu Bolg membukakan pintu. Pintu akhirnya terbuka namun bukan Bolg yang kami lihat.

Seorang gadis. Dengan sayap dan telinga mencuat. Ia menggunakan stelan sederhana berwarna hijau muda. Wajahnya berwarna senada dengan pakaiannya namun rambutnya berwarna pirang kemerahan. Wajahnya cantik, berbentuk oval dan memiliki pipi chubby yang standar.

“hai! Namaku Wendy, seorang winged elf. Dan kalian?” ia tersenyum riang. Aku tersenyum sedikit dan mengangguk sopan padanya.

“dimana Bolg?” tanya Jae tanpa basa basi. Ia terlihat tak tertarik pada Wendy dan malah melihat sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan Bolg.

“dia sedang kehutan, mempersiapkan sesuatu. Masuklah” ucap Wendy tersenyum, mempersilahkan kami masuk.

Wendy meenyuguhkan kami teh hitam yang berampas serta rebusan telur burung puyuh. Jae agak mengernyit.

“ini apa?” tanyaku

“oh, minumlah. Kita akan berjalan sangat jauh hari ini. Ini ramuan paling mujarab yang telah diperjuangkan Bolg semalam. Mencari hati belut malam2 bukan soal gampang. Belum lagi dengan sisik buaya dan lendir lintahnya”

Jae menunjukkan wajah mual. Aku terdiam dengan sempurna, tidak bicara apa-apa dan tetap memfokuskan diri pada cairan hitam berampas tersebut. Wendy memaksa kami meminumnya. Butuh waktu lama sampai Jae mau meminumnya.

“kau mau membunuh kami ya? Rasanya seperti kencing kuda.” Teriak Jae.

“oh, kau pernah meminum kencing kuda?” tanya Wendy dengan kepolosan yang sulit diartikan.

Jae terhuyung huyung keluar, ingin memuntahkan minumannya namun dengan cepat dikejar oleh Wendy. Aku bisa mendengar mereka berdebat. Aku sendiri tetap terdiam di tempatku, berusaha tidak muntah. Daripada kencing kuda, kurasa cairan ini lebih seperti gandum busuk yang dijadikan sup dan dicampur dengan daging domba kering. Namun aku langsung bisa merasakan efeknya. Seolah tubuhku dialiri listrik, ada sejumlah energi yang masuk ke setiap sendi tulangku.
Bolg datang tidak lama kemudian. Ia membawa sejumlah dedaunan dan menyuruh kami berkumpul.

“ini matla. Ramuan yang baru kalian minum bernama matla. Itu minuman kekuatan yang akan membuat kita mampu berjalan tanpa lelah selama sehari penuh. Kemudian ini namanya daun conbukey. Yang jika diperas lalu dikunyah, hasil kunyahan daun itu akan menyembuhkan berbagai luka atau cider jika ditempelkan.”

Bolg terus menjelaskan berbagai kegunaan daun dan aku menyimak dengan cermat. Jae masih berusaha untuk tidak memuntahkan isi perutnya dan Wendy sibuk menceramahi Jae bahwa cairan itu akan berguna sekali.

Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi ketika kami akhirnya memulai langkah. Pertama tama dengan melewati padang rumput, kebun sayuran (Jae mencuri beberapa kol), dan Wendy secara ajaib menghilangkan sayapnya. Kami berhenti disebuah sungai kecil dan minum sembari mengisi kembali botol-botol kami dan makan siang. Aku sedang memanggang chistorra diatas api ketika otakku teringat oleh rumah. Aku terkekeh. Ayah pasti sedang kalang kabut.

Kami mencapai tanah landai yang empuk ketika malam tiba, kira-kira pukul sembilan. Reaksi ramuan sudah hilang dan kami begitu letih.

“muddypirple!” seru Bolg ditengah kegelapan.

“kira-kira dia memanggil siapa?” bisik Jae.

“dwarf” bisik Wendy. “mereka makhluk penghuni daerah ini.”

“oh maaf, aku berbisik pada Baekhyun. Benar begitu, Byun?” Jae menyenggolku.

“oh begitu. Yah, tidak perlu begitu. Lagipula kau sudah tau jawabannya.” Sergah Wendy,

“diamlah. Kau itu sok tau sekali.” Bantah Jae yang kini suaranya meninggi.

“aku berbicara karena aku memang tau, tidak sepertimu.” Balas Wendy angkuh.

“oh yea? Taruhan denganku, makhluk lemah sepertimu tidak akan tahan dengan perjalanan ini.” Ejek Jae

“makhluk lemah katamu?” geram Wendy yang jelas sekali nampak tersinggung.

“ssttt” aku memotong mereka, karena sekarang jauh didepan sana ada kilatan cahaya api yang bergerak semakin mendekat kekami.

Ketika akhirnya cahaya itu sampai didekat kami, aku bisa melihatnya dengan jelas. Berjanggut, dengan tinggi tidak lebih dari 120cm, ekspresi wajah liar dengan tatapan garang. Rambutnya seperti sarang burung dara.

“ikuti aku, Bolg.” Ucapnya datar.

Kami mengikutinya hingga ke sebuah pohon besar, sangat besar, lebih besar dari kamarku, dan dibawah pohon itu, tepat di akar-akarnya terdapat sebuah pintu kecil. Kami harus menunduk agar bisa melewati pintu itu. Didalam rumah pohon ini suasananya hangat dan nyaman. Kilatan api yang berkobar di salah satu perapian kecil disudut ruangan serta karpet beludru merah memberi kesan klasik dan damai, serta membuat mengantuk. Kami semua disuguhi teh berwarna merah muda yang wanginya seperti wangi bunga sakura. Rasanya seperti bubur manis.

“nah, Bolg. Kupikir kau sudah tau apa masalahnya” ucap dwarf.

“ya, tentu saja, muddy. Benar-benar harus dituntaskan, kupikir.”

“dan kau pikir aman membawa belatung-belatung kecil ini bersamamu? Beserta si telinga aneh?”

“apa maksudmu belatung?” sela Jae yang kini wajahnya merah padam.

“dan telinga aneh katamu?” sergah Wendy. Mata hijaunya berkilat kilat.

Si dwarf mengerling kearahku, menandakan ia menunggu protes dariku seperti halnya Jae dan Wendy. Tapi aku diam saja.

“yah, Bolg. Kau tau kebanyakan anak dari desa diculik, dan pikirkan apa akibatnya membawa anak-anak ini bersamamu.” Lanjut si Dwarf, mengabaikan pandangan mencela dari Jae dan Wendy.

“maaf, sir... bisakah anda berterus terang saja mengenai apa yang sedang terjadi? Kami...maksudnya aku, ingin tau lebih lanjut” ucapku sopan.

“tak perlu sungkan, Byun. Akupun ingin tau.” Ucap Jae. Matanya belum lepas dari pandangan-mencelanya pada si dwarf.

Bolg berdeham. “baiklah, anak-anak. Banyak anak-anak yang diculik akhir-akhir ini. Dari semua ras, tidak hanya manusia. Dan kami belum tau siapa dalang dibalik semua ini.”

“apa ada tanda-tanda mereka akan kembali?” ucapku. Aku mengerling kearah Jae. Ia tampak gusar. Sebenarnya, adiknya telah diculik darinya setahun yang lalu.

“tidak ada kepastian tentang itu. Harus diselidiki dulu” ucap Bolg sembari memfokuskan matanya pada perapian.

“mari kita selidiki” ucapku mantap.

Krekkkk................ sebuah suara dari luar mengalihkan pandangan kami.


-TO BE CONTINUED-

Kamis, 28 Mei 2015

??? #2


Five thousand years ago, there was a sacred covenant spoken in a soft meadow. A covenant that could not be violated. A covenant which was believed to make a peace, but on the contrary, led to a disaster.  A great disaster.

in the days of yore, there was a prosperous kingdom. The kingdom was filled by educated people, its naval and armies were strong and greatly feared by all enemies. This kingdom used to be the center of all neighboring countries. they won every battle, as if victory was their breath. everything was perfect, beautiful, and would not be forgotten even if the world ends.

people in this kingdom consisted of two kinds of creatures. humans and werewolves. there was no conspicuous difference between them. all could accept the difference and it created an unspeakable peace. led by two kings as representatives of each creature, this kingdom reached its heyday. there was not a single day that passed without happiness. livestocks, agriculture, mountains, rivers, oceans, all endowed with affluent. no drought ever hit the kingdom.

That kingdom was once named "AGRIA"

located in the valley of a mountain called Anesta and fed by a large river in every corner side, Agria was a peaceful kingdom. the sun was never too hot, and rain was never too cold. there was never hunger and tears of grief was very rare. as far as eyes could see, there was only happiness.

until one day, a risky conflict arised.

the conflict was caused by the humans’ greed, greed that appeared by a desire to dominate completely. greed that led to the estrangement which was increasingly loosened so that the peace was finally disintegrated.

This case stemmed from the 100th human King who stated that humans were the ones who should take the complete control of Agria. The statement was greeted poorly by the werewolves who felt their position was threatened.

This greedy king incited all people to suppressed the werewolves. slavery was slowly emerging. the werewolves were enslaved by the humans. The peace gradually began to fade and eventually disappeared. the werewolves who could not bear it finally did a revolt and destroyed the kingdom. internal war ensued. These two opposing camps finally reached the peak of the war with a draw. none of them managed to win. Finally, the sacred covenant pronounced amid a soft meadow. A covenant whereby the two sides formally parted and promised to no longer care about each other, and the worst was, no single member of each camp allowed in touch with members of the other camp. if this promise violated, then the person who triggered it must be sacrificed. no one could escape it for the covenant was made under a deadly powerful magic.

Five thousand years later, the conflict between the two camps had crystallized and ingrained. both sides hated each other but there was never a murder, because if one of them triggered a fight, then a great war would occur. the werewolves dominated the woods and mountains, while the humans dominated plains. That soft meadow was the barrier of both camps’ areas. No one was allowed to pass through it.

Now, each camp was led by their kings. Both kings were young because they had just ascended the thrones. The King of the humans named Oh Sehun, who used to be called King Sehun. on the other hand, the King of the werewolves named Byun Baekhyun, and used to be called King Byun. Both kings had entirely different views. Sehun king was a broad-minded king who loved books rather than war things. he was an ambitious king who thirst for power and knowledge. on the other hand, King Byun is a king who fell in love with nature and adventures. He was always riding horses and being trained to use kinds of swords. he was a wise and clever king who loved peace though he did not talk much yet was always being warm to everyone. He was a brotherly person as well.

A striking similiarity of two kings was seen in their goal. Yes, both had a same goal. They wanted to rebuild the peace that was once divided between the two kingdoms. Actually, both Kings often secretly met each other while they were still princes. Their meetings were very warm since they were younger at that time. The first meeting occurred when they were 10 years old. they sneaked away from their palaces at the middle of a night, intending to satisfy curiosity. King Sehun intended to seek a point of history that could guide him to satisfy his desire for knowledge, while King Byun wanted to see how the humans' life lasted. both spent that night by shared many stories and experiences. They kept seeing each other up to the day they had crowned as kings. They became best friends. They awared that peace was more important than anything else. they linked their little fingers and made a promise that one day, they would actualize the peace. They believed that even the biggest magic hampered, they would still be able to actualize their dreams.

they had almost reached the top of their dreams when they must eventually forced to hate each other because another obstacle impeded. it was even greater than the magic.

a girl.

She came amid the two, making the situation that originally existed perfectly got shuttered so sudden.

Love is everything it's cracked up to be. That's why people are so cynical about it. . . . it really is worth fighting for, being brave for, risking everything for. and the trouble is, if you don't risk anything, you risk even more. in my case, i have to risk my friendship with Baekhyun."  – King Sehun

“As a matter of fact, a long-life friendship can be broken by the existence of love. in our case, a triangle love.” – King Byun


because of the girl, a dispute between the two appeared, there was a very big mistake that nearly led to a great war. both were confronted by two deadly choices.

“letting her go to happy with one of them”

Or

“letting their people die in war just because their selfishness toward a girl”

Only one decision needed.

"If you love two people at the same time, choose the second one, because if you really loved the first, you would have never fallen for the second"

Rabu, 27 Mei 2015

???

hard times that had previously been foreseen finally arrived. 





all contributed to determining what would happen in the future.






all were about to bear witness to a great change that had ever happened for thousands of years.





would the fierce hostility that had lasted for thousands of years be vanished by the presence of a thing called love?


all things have sacrifice


Would he be a victim of this?



Would the greatness of love could survive in the midst of a raging storm that hit?





"choose. You have to make a decision." Said his friend.

“Never cut a tree down in the wintertime. Never make a negative decision in the low time. Never make your most important decisions when you are in your worst moods. Wait. Be patient. The storm will pass. The spring will come.” He replied.

“There's no wrong time to make the right decision.

“I always wary of decisions made hastily. I always wary of the first decision. that is the first thing that comes to my mind if I have to make a decision. This is usually the wrong thing. I have to wait and assess, looking deep into myself, taking the necessary time.”

“A real decision is measured by the fact that you've taken a new action. If there's no action, you haven't really decided.”

“Do nothing, and nothing happens. Life is about decisions. You either make them or they're made for you, but you can't avoid them.


“Surely. We all make decisions, but in the end, our decisions make us.” 


he ended the conversation and walked slowly toward the balcony, gazing wistfully at the moonlight that slowly ripe redness. He knew, the time had come. Byun Baekhyun knew. He smiled bitterly as he linked his fingers. The corner of his eye twitched, indicating he was in his weakest state. Even so, he still looked like a usual; strong and tough.






“Unfortunately, we can never truly know if we're making the right decision. What we do know is that wherever we are, that's where the Light wants us to be. It's the best place for us to be now. And as long as we don't try to control the situation, then we won't end up in the place we shouldn't be.”
  

Sabtu, 16 Mei 2015

UNTITLED


to watch the trailer video, you can click on a link below



-PROLOG-

Waktu. Hal ini begitu misterius, begitu sulit untuk ditebak, begitu sulit untuk dibayangkan.
Ia melahap habis semua hal secara perlahan, tak ada yang abadi dibawah kekuasaan sang waktu.

Manusia, benda, dunia, bahkan tata surya, semua adalah milik waktu.
Sebagian orang dipercaya memiliki kekuatan menghentikan waktu,
Namun  sang waktu tak pernah benar-benar berhenti.

Ketika membicarakan waktu, maka kita membayangkan 3 bagian utama dari waktu. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Walau terpisah, mereka tidak pernah sama sekali berpisah.
Masa sekarangmu bisa saja tak terpaut dengan masa depanmu, namun masa sekarangmu sangat terpaut oleh masa lalumu.

Berbicara tentang masa depan, semua orang begitu penasaran dengan masa depan.
Masa depan memiliki artian waktu yang akan datang.

“bagaimana masa depanku nanti?”

semua orang selalu mempunyai pertanyaan yang sama dibenaknya.
Kebanyakan orang hanya bisa menerka, bergantung pada ikatan takdir yang membelenggu mereka, tanpa tau apa takdir itu sebenarnya.

Takdir adalah mutlak hukumnya. Tak ada seorangpun yang dapat menghindari takdir, walau ada beberapa yang bisa membaca takdir mereka sendiri, mereka tak pernah benar-benar bisa terlepas dari belenggu takdir tersebut.

Takdir sangat erat kaitannya dengan masa depan. Apa yang akan terjadi di masa depan, sangat bergantung akan suratan takdir yang telah ditetapkan sang penguasa.

Setiap makhluk hidup mempunyai batas masing-masing. Tak perduli seberapa hebat dan kuatnya pun mereka, selalu ada sebuah batasan yang menghalangi.

Batasan tersebutlah yang disebut dengan TAKDIR.

-Pria 180cm, berambut hitam lurus itu berjalan tegap ditengah sebuah gurun yang tandus. Sejauh mata memandang, hanya dirinya sendirilah satu-satunya objek bernafas di daerah itu. Langkahnya sempurna, sunyinya daerah itu seirama dengan pergerakan kakinya. Pasir gurun hampir tak terseret oleh kasut coklatnya. Ujung syal coklatnya berkibar elok kebelakang. Separuh wajahnya tertutup oleh syal coklat nan usang tersebut. Ada sesuatu yang mengganjal dari tatapan berkedut di sudut matanya. Sebuah siratan aneh tercipta, sebuah siratan kekhawatiran. Di tengah gurun tersebut berdirilah sebuah bangunan rapuh yang tampaknya sudah berusia ratusan tahun. Pintu-pintu bujur sangkar menandakan bahwa bangunan tersebut dulunya adalah bekas bangunan besar pada peradaban mesir kuno. Pria itu memasuki salah satu celah bujur sangkar itu dan menghampiri sesuatu disana. Suatu pusara usang dan jelas sekali sudah lama tak terjamah. Penuh dengan rangkaian jaring laba-laba dan ada seekor burung gagak hitam yang hinggap diatasnya. Diatas pusara tersebut juga berdiri sebuah salib yang juga tak kalah usang, serta sebuah patung aneh yang terlihat memeluk sang salib. Pria itu menurunkan tubuhnya lalu bersimpuh setengah terduduk didepan pusara tersebut. Ia mengusap pelan batu nisan didepannya, lalu tersingkaplah sebuah kalimat asing. Sorot mata pria itu terlihat tak tenang, ada sebuah siratan kegundahan dalam bola matanya. Ia berdiri, lalu menerawangkan pandangannya, mengawasi burung gagak yang terbang menjauh darinya. Hatinya tak tenang. Sorot matanya menegaskan bahwa ia sedang dalam kondisi yang tidak stabil.-

-Jarum jam tersebut tak berdetak sempurna. Jarum itu terus menerus berdetak maju mundur di angka XII. Pria 185cm tersebut membulatkan matanya, sorot kekhawatiran nampak jelas, sangat sulit untuk disembunyikan. Ia berjalan cepat melintasi padang rumput itu seraya menengadahkan pandangannya keatas, menerawang, mencari sebuah tanda yang terus menghantui pikirannya. Pikirannya membawanya memasuki hutan. Ia tetap mencari tanda itu. Berjam-jam lamanya ia mencari tanda itu namun tak kunjung ditemukannya. Ia memejamkan matanya, dan menyadari bahwa tanda tersebut sudah menghilang, tak akan bisa ditemukannya lagi. Dalam kekesalannya, pohon-pohon disekelilingnya terbakar dalam api panas, seolah menyiratkan bahwa alam pun turut berduka atas peristiwa ini.-

-Pria 180cm itu merasakan memang ada sesuatu yang mengganjal sedari ia membuka matanya pagi itu. Waktu berjalan begitu cepat, seolah terburu-buru untuk mengungkapkan rahasianya. Ia berjalan santai menuju sebuah rumah. Ada dua orang anak laki-laki yang sedang bermain, namun tak tampak seperti bermain. Mereka sedang mengawasi langit. Hawa kedatangan pria itu dalam sekejap membuat seluruh mainan di ruangan itu melayang. Ia mengikuti arah pandangan anak-anak itu, benar saja, waktu berjalan begitu cepat. Matahari dengan cepat dilahap oleh kegelapan, bagai seorang bayi menghabiskan sepotong utuh cookie. Sebuah tanda tak lazim memenuhi langit itu, awan membentuk sebuah tengkorak, lalu dari mulut tengkorak itu keluarlah sebuah asap lurus kehitaman yang berpacu keluar dengan kekuatan penuh. Raut wajah pria itu yang semula santai, mendadak gusar. Dalam kegusarannya, ia berlari keluar. Sorot matanya menyatakan bahwa ia tidak dalam kondisi pikiran yang tenang.-

-Menyadari bahwa hari berlalu lebih cepat dari biasanya, seorang pria 180cm mengedarkan pandangannya dengan cukup heran, lalu bergegas masuk ke sebuah bangunan berbentuk koridor panjang dengan anak-anak tangga sebagai penghubungnya. Ia terus mengedarkan pandangan disetiap langkahnya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya, menyadari bahwa sesuatu yang mengerikan telah dimulai. Ia tetap melanjutkan langkahnya dengan waspada namun santai sampai akhirnya ia menangkap suatu pergerakan tak lazim dibelakangnya. Ia menoleh dengan sigap, mengedarkan pandangannya, dan berdiri cukup lama untuk memeriksa. Tak ada apa-apa. Ia melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian, earphonenya berhenti melantunkan music. Ia berhenti dan memeriksa jika ada yang salah dengan earphone atau handphonennya. Benar saja, cahaya handphonenya meredup, tak seperti biasanya. Hanya ada pemberitahuan satu pesan masuk saja yang ditampilkan. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di koridor tersebut mati secara berkala. Pria itu berlari, menjauh dari kegelapan yang mengejarnya. Lampu-lampu terus menerus mati secara berkala seiring dengan langkah berlarinya. Ia terjerembab, terhalang oleh suatu gerbang besar. Kegelapan sudah menguasai daerah itu, ia menghela nafasnya. Sesuatu yang mengerikan benar-benar akan terjadi.-

-Gadis itu berjalan anggun dengan mini-dress putihnya, melewati bebatuan besar disampingnya. Tatapannya tenang, ia tampak memandangi pemandangan itu, tanpa mengetahui bahaya yang sedang mengintainya.-



Minggu, 10 Mei 2015

DIE OR WIN [CHAPTER 4 : UNDERGROUND KINGDOM]

kami memulai perjalanan pagi-pagi sekali. 4 orang Divergent dengan 1 orang jangkung berkostumkan ninja kuno ala jepang jaman pertengahan. aneh memang. aku sendiri tetap mengawasi orang bernama Chanyeol itu. Chanyeol orang yang periang. candaannya konyol. tak jarang kami tertawa terbahak-bahak disepanjang jalan. ia berkata bahwa namanya di dunia bawah sana adalah Dodit. nama yang aneh sekali. aku terus mengawasi dirinya, merasa bahwa ada sesuatu yang ganjal terpancar darinya. aku yakin ada sesuatu yang salah. sesuatu yang aneh menyelubungi dirinya. Kris menyerukan bahwa ia telah memikirkan mengganti nama menjadi Jisan dan mengancam akan menendang kami ke angkasa jika kami masih saja memanggilnya dengan Kris.

"mungkin magoi kalian akan terserap sedikit ketika memasuki gerbang bawah tanah, berhubung kalian adalah para penghuni dunia atas; tentunya tak terbiasa dengan udara dunia bawah" celetuknya sore itu ketika kami sedang meminum air dari sumber mata air dikaki gunung.

"magoi?" tanya Kaden penasaran.

"energi yang terbuat dari Rukh." jelasnya singkat.

"Rukh?" tanyaku makin tak mengerti.

"rohmu. atau jiwamu. yang sering berbentuk seperti burung-burung putih kecil. dan magoi itu energy yang dihasilkan oleh rukh mu." jelasnya.

"bisakah kau menjelaskannya lebih jelas lagi?" tanya Jisan.

"setiap orang memiliki kadar rukh yang berbeda-beda. di dunia bawah, manusia terbagi menjadi beberapa aspek. para penyihir, para goi (manusia non-shir), para ninja, dan magi. magi itu penyihir tingkat atas dan kekuatannya benar-benar hebat." jelas Chanyeol.

"dan kau adalah ninja?" tanya Sehun.

"dari beberapa aspek itu, ada lagi yang namanya sub-aspek atau campuran dari berbagai aspek itu. banyak penduduk dunia bawah yang memiliki darah campuran. sangat sedikit yang asli dari berbagai aspek itu. legenda menyebutkan, hanya ada tersisa 4 magi asli."

"sub-aspek?" tanya Kaden.

"ya. kami berbeda dari Zagigs. populasi kami sendiri hanya ada di planet ini. kau salah jika membayangkan bahwa dunia bawah itu gelap dan lembab. justru udaranya lebih bersih dari dunia atas. walaupun matahari kami buatan, itu bukanlah masalah, bentuknya sama seperti matahari asli, hanya saja tidak sepanas itu. ah, kembali ke sub-aspek.. yah contohnya saja, persilangan antara mag-goi, penyihir-goi, magi-ninja, goi-ninja, penyihir-ninja." jelas Chanyeol seraya menangkupkan tangannya pada air lalu membasuh wajahnya.

"dan kau sendiri?" tanyaku.

"ayahku seorang magi. ibuku seorang goi."

"bagaimana bisa kau menjadi ninja?" tanya Jisan.

"sama seperti halnya seseorang yang dilahirkan di Erudite pada akhirnya bisa menjadi seorang Dauntless."

"maksudmu, bakatmu adalah sebagai ninja dan kau menjatuhkan pilihanmu untuk hidup sebagai seorang ninja?"

ia tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan itu. "tidak juga. aku suka sesuatu hal yang baru. pilihanku sangat ditentang oleh ayahku. bakatku? aku berbakat sebagai seorang magi, sebetulnya. awal mengikuti pelatihan ninja, aku sangat payah karena sudah kebiasaan sejak kecil dibantu oleh sihir. aku berada di urutan siswa terlemah kala itu, bahkan hampir dikeluarkan. pengalaman yang buruk." ia merenung. "namun aku bukan orang yang lekas patah semangat. kau tau, tidak ada yang instan di dunia ini. bahkan alat-alat yang bisa membuat pekerjaan kita menjadi instan pun proses membuatnya membutuhkan waktu yang panjang, bukan? aku membayangkan diriku seperti berada di bawah sebuah bangunan besar kala itu. dan gelar ninja adalah atap dari bangunan itu. untuk sampai kesana, aku harus mendaki tangga yang dipenuhi dengan usaha kerja keras dan kesabaran."

"apa kau berhasil sampai ke atap itu?" tanya Sehun.

"tentu saja. 2 tahun aku berlatih dengan keras. aku bahkan hampir kehilangan nyawaku. namun yah, semua terbayar lunas ketika akhirnya aku mendapat gelar ninja dan sekarang menjadi pengawal kerajaan bawah."

kami melanjutkan perjalanan sembari mendengarkan Chanyeol terus bercerita tentang dunia bawah yang penuh pesona itu. hal yang paling kusukai dari ceritanya adalah perihal Dungeon. Dungeon adalah suatu wilayah dimana kau harus mengalahkan monster di wilayah itu dan sebagai hadiahnya, kau bisa mendapatkan Jin dari wilayah itu. Jin itu akan mengabulkan semua permintaanmu dan akan mengikutimu seumur hidupmu.

kami sampai ke sebuah gua di sisi ujung gunung tersebut. gua tua yang rapuh serta menyeramkan. ketika kami masuk, tidak ada jalan. yang ada hanyalah genangan air raksasa memenuhi setiap sisi gua.

"inilah alasan mengapa penghuni dunia atas tidak pernah bisa masuk ke daerah dunia bawah." Chanyeol mengulas sebuah senyuman.

"kalau kalian sudah siap, katakan saja" tambahnya.

"apa maksudmu? tidak ada istilah tidak siap ketika pengalaman sudah didepan mata" seru Jisan.

"baiklah-baiklah." Chanyeol berdeham sedikit lalu menggesekkan kedua telapak tangannya. lalu muncullah sebuah cahaya kilat kemerahan seperti asap gemerlapan. asap itu semakin tebal sehingga memenuhi kami semua. ketika asap itu menghilang, kami sudah berada didalam sebuah balon merah tansparan, tak lama balon kami berguling satu demi satu----yang membuat kepalaku pusing----ke genangan air raksasa itu. kami tenggelam, jauh kedalam dasar air itu. ada sekitar 2 jam kami menelusuri dalamnya air itu hingga akhirnya kami melihat sebuah kota dibawah sana. sebuah kota didalam air. wow... hebat sekali, namun ada sebuah gerbang yang membatasi kami dengan kota itu. Chanyeol menjetikkan jarinya sehingga gerbang itu terbuka, dan apa yang kusadari setelah kami melalui gerbang itu adalah, bahwa kota itu tidak berada di dalam air, namun di sebuah daratan, dengan matahari yang bersinar. tepat setelah kami melewati gerbang itu, balon yang menyelubungi kami pun menghilang, aku sempat berpikir bahwa aku akan tenggelam. namun ternyata tidak. justru kami terhempas di rerumputan lembut seperti kapas. aku menengok kebelakang, berharap menemukan lagi pemandangan gerbang dan air yang kami lewati tadi, tapi ternyata tidak ada. semua itu sudah musnah. yang ada di belakangku hanyalah langit biru cerah, serta hamparan rumput lembut dan ada barisan pohon menandakan tepian hutan di seberang sana. ada burung-burung serta matahari kemerahan yang sangat besar, seolah-olah kau bisa menggapainya dengan sedikit berjinjit.

kami semua terpana dengan apa yang kemudian kami saksikan. awan-awan yang gemuk. ya, kami pikir itu adalah awan. namun kemudian Chanyeol memberitahu bahwa itu adalah biri-biri dan jika kami menyipitkan sedikit mata kami, maka akan tampak samar-samar ada seorang penggembala yang berdiri diatas sebuah permadani, mengawasi biri-birinya. bualan Chanyeol tentang dunia bawah yang terdengar lebih indah dibandingkan dunia atas sungguh bukanlah bualan semata. kini kami melihatnya sendiri. ini benar-benar menakjubkan. dan benar saja, udara disini lebih sejuk dibandingkan diatas sana.

ada sebuah padang rumput yang besar yang memisahkan kami dengan gerbang sebuah kota yang terlihat megah diseberang sana. kota itu terlihat bersih rapi dan memanjakan mata. kota tersebut berada di lereng sebuah gunung. kota tersebut tidak melebar melainkan meninggi keatas. dan tepat di puncaknya, ada sebuah bangunan besar yang kokoh dan royal. aku bertaruh bahwa itulah istananya.

disepanjang jalan menuju ke kota, kami banyak bertemu orang-orang berjubah dan bertopi runcing. aku tau. mereka adalah Penyihir. lalu ada kaum yang memakai gaun jubah panjang dan terlihat anggun, Chanyeol menjelaskan bahwa itu adalah para Magi. dan ada beberapa orang yang berpakaian sama seperti dirinya, yaitu kaum ninja.

sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, aku mulai terbiasa dengan suasana di dunia bawah ini. aku melihat ada banyak burung-burung putih berterbangan disekeliling orang-orang yang disebut magi. tapi aku diam saja. kupikir itu adalah hal yang biasa dan semua orang bisa melihatnya----kenyataannya aku salah besar. kau akan tahu nanti.

kami melanjutkan perjalanan menuju kota. ternyata padang rumput halus itu berlembah. ujung lembahnya berkelok menuju sebuah sungai jernih yang dipenuhi banyak ikan yang aneh. tampak seperti ikan normal namun dengan ukuran yang luar biasa besarnya. Chanyeol bercerita bahwa ikan-ikan itu adalah pencitraan dari dewa-dewi sungai. Kaden menyapa mereka sembari melemparkan senyum hangat.

kami akhirnya sampai di gerbang kota. para penjaga gerbang pun sangat ramah dan selalu menebar senyum. di zamanku ini, di dunia atas, sudah tidak ada kota-kota yang berpenjaga seperti itu. aku pernah melihat yang seperti ini ketika aku bertualang bersama ayahku ke abad 18. semua orang begitu ramah, begitu murah senyum. hampir semua hal dijalankan oleh sihir.

"Raja adalah seorang magi. ia kehilangan putra sulungnya sewaktu baru dilahirkan" ucap Chanyeol.

"malang sekali." iba Kaden.

"ya, memang. ku taksir umurnya sekarang mungkin sudah seusia kita, karena ibuku waktu itu bekerja di istana sebagai pengurus Ratu, dan saat itu ibu sedang cuti melahirkan aku."

"memangnya diculik oleh siapa?" tanyaku.

"penghuni dunia atas, kata mereka. tapi Raja tak yakin karena sedikit sekali penghuni dunia atas yang mengetahui keberadaan dunia bawah."

"apa anak itu masih hidup?"

"tidak ada yang tahu. tapi Raja adalah seorang magi yang hebat. kabarnya kehebatannya itu diturunkan pada putra sulungnya. seharusnya pangeran-lah yang kelak menggantikan Raja."

"dan sekarang putrinya pun diculik? yang benar saja. seberapa banyak musuh si Raja itu?" tanya Jisan.

"lebih banyak dari burung-burung yang bisa kau lihat di udara. mereka memusuhi Raja karena Raja adalah seorang magi yang hebat dan kuat."

"maksudmu, permusuhan disini terjadi karena iri hati?"

"bisa dibilang begitu, tapi tak sepenuhnya."

"lalu?"

"biar kujelaskan" ucap Chanyeol memulai penjelasan ketika kami menukik belokan pertama menuju jalan diatas. jalanan dikota ini melekuk membelok keatas.

"dunia bawah ini dibagi menjadi dua kerajaan. putih dan gelap. sebenarnya dulu hanya ada satu. namun oleh pertengkaran antara 2 pangeran 1000 tahun yang lalu, maka terpecahlah menjadi dua bagian."

"jangan bilang bahwa salah satu pangeran yang dimaksud adalah sang Raja"

"tepat sekali"

"tua sekali umurnya"

"magi memang begitu."

"begitu bagaimana?"

"ya begitu."

Jisan meneplak kepala Chanyeol membuat ninja itu meringis, lalu tertawa keras.

"maksudku, umur magi memang panjang. apalagi pure magi."

"itu artinya, kau tidak berumur panjang?" tanya Kaden

"tidak. lagipula menyebalkan jika kau memiliki umur panjang sementara orang disekitarmu tidak."

"ya. kehilangan seseorang lebih sakit daripada dihantam sebilah kapak" renung Sehun yang sepertinya memikirkan sesuatu.

kami berhenti disebuah penginapan karena hari disini sudah mulai senja sementara istana masih diatas sana. Chanyeol menawari apakah kami ingin memakai cara instan saja dengan menaiki permadani para magi, namun kami menolak karena berbuat instan seperti itu akan mengurangi kadar pengalaman.

penginapan itu memiliki 3 lantai. lantai pertama adalah ruang makan dan minum, sejenis restoran, lantai kedua dan ketiga berisi kamar-kamar. kami memakan daging kalkun panggang yang sangat besar. Chanyeol dan jisan menghabiskan setengah dari kalkun itu.

kami tidur terpisah malam itu. aku dan Kaden berada di dalam satu kamar, Sehun awalnya disamakan dengan Jisan dan Chanyeol namun akhirnya pindah memesan kamar lain karena tidak tahan dengan ributnya dua orang itu.

aku tidak bisa tidur. terus menerus membayangkan hari-hari yang akan kuhadapi kedepan. betapa indah dan menyenangkannya pengalaman dunia bawah ini. Kaden sudah terlelap. aku bersyukur ia bukan tipe pendengkur seperti Jisan. tak lama aku tertidur.

aku bermimpi aneh. sangat aneh. aku berada di sebuah lorong hitam dengan beberapa lampu remang-remang yang menyala. lorong itu kedepannya sangat gelap. aku menelusuri lorong itu dengan hati-hati. ketika aku sampai ditengah tengah lorong dengan cahaya lampu redup itu, semua cahaya lampu itu satu persatu menghilang, dimulai dari arah belakangku. bersamaan dengan hilangnya cahaya lampu itu, aku mendengar derap kaki yang diiringi dengan sebuah tawa yang tak terdengar bersahabat. aku berlari kedepan, berusaha menjauh dari sosok misterius didalam kegelapan itu. aku sangat panik sehingga kakiku terantuk pada sebuah batu dan aku tersungkur. cahaya lampu yang masih tersisa disekitarku tak jadi padam. suara langkah kaki itu kian datang mendekat, dan akhirnya aku melihatnya. seorang wanita cantik, bergaun sutera merah, namun ada kelicikan terpancar dari sudut matanya.

"selamat datang kembali, Pangeran."

aku terbangun. sinar mentari pagi menyinari mataku, membuatku mengerjap. keringat dingin membasahi pelipisku. sadar, bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh. kamar telah kosong. Kaden tidak ada ditempat tidurnya. semua hampa. aku melihat keluar jendela, kota itu mati. tandus, dan penuh dengan orang-orang berjubah hitam dengan mimik wajah mengerikan. aku turun kebawah, semua berwajah muram dan mengerikan. Jisan, Sehun, Chanyeol. tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Kaden. ia tersenyum ramah seperti biasanya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

aku terbangun lagi. sadar bahwa kebangunanku tadi merupakan bagian akhir dari mimpi aneh itu. aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan bergegas menuju jendela, para pedagang sudah mulai menggelar dagangannya dan para penduduk berwajah ramah berjalan kesana kemari. aku terduduk lega disamping jendela dan menghembuskan nafas kasar.

"kau sudah bangun?" suara Kaden mengejutkanku.

"ah.. iya..." jawabku singkat.

"ada apa denganmu? kau bermimpi buruk?"

"tidak... biasa saja."

"cerita saja jika ada sesuatu yang mengganjal."

"tidak ada. aku bermimpi tentang kita datang ke istana dan disambut dengan berbagai makanan. hahahahaha" aku tertawa renyah yang disambut pandangan bertanya oleh kaden.

"aku akan mandi." jawabku kemudian. aku mengambil handuk lalu melesat cepat ke kamar mandi.

aku terdiam, memandangi diriku di cermin dikamar mandi. ada sesuatu yang aneh dari wajahku. aku tidaklah seperti aku pada hari-hari sebelumnya. aku disini lebih bercahaya dan berkilauan. tapi sepertinya Kaden tadi tidak meyadari hal itu. aku berusaha berpikir positif. semua hal di dunia bawah ini aku yakin ada hubungannya dengan sihir. bukan mustahil jika ini adalah sebuah cermin yang bisa membuatmu terlihat lebih tampan atau sejenisnya. aku bergegas mandi lalu turun kebawah untuk sarapan. semua sudah menunggu. tapi aku mendengar ada sedikit keributan yang dibicarakan.

"sepertinya mereka memang menyusup." ucap Jisan sembari menyuapkan sesendok kentang tumbuk ke mulutnya.

"ada apa? dimana Chanyeol?" tanyaku.

"ah, Baek. dia sedang melakukan patroli keliling kota. kabarnya ada penyusup semalam yang masuk ke kota ini." jelas Jisan.

"ya. penyusup. orang-orang dari kerajaan gelap." tambah Kaden.

"kita akan menunggu sampai ia kembali baru kita melanjutkan perjalanan ke atas." jelas Sehun.

"pangeran telah kembali malam tadi? apa maksudnya. omong kosong." racau sang pemilik penginapan yang kebetulan lewat disamping kami.

aku memicingkan mata ke arahnya. mataku kembali menatap normal ketika ia sudah menjauh. Kaden sedang mengawasiku dengan seksama.

"apa?" tanyaku.

"ada sesuatu yang harus kau jelaskan kepadaku." ucapnya datar.

-TO BE CONTINUED-

Minggu, 12 April 2015

DIE OR WIN [CHAPTER 3 : SILHOUETTE]

kami diperintahkan untuk berbaris memanjang kebelakang. semenit yang lalu kami diberitahukan bahwa kami akan menjalani latihan terpisah dari para gadis.

"kalian silahkan menyebut nama panggilan kalian yang telah kalian siapkan. nama itu akan dipakai dari sekarang hingga selamanya. kalian akan diingat, akan dikenang oleh nama itu. dimulai dari kau" perintah seorang staff pelatih Divergent sembari menunjukkan telunjuknya pada Kaden, yang kebetulan berdiri memimpin didepan.

"Kaden. hanya Kaden." ucapnya tenang.

"baiklah, Kaden. kau silahkan menaiki truk" perintah staff itu lagi yang diikuti anggukan menurut dari Kaden.

satu per-satu kami menyebutkan nama. hingga tibalah giliranku. aku bingung. namaku yang sekarang agaknya tidak pas denganku, aku ingin sekali berganti nama. semenit yang lalu, Ten bukanlah Ten lagi. kini ia memiliki nama baru yaitu Sehun, yang katanya didapatkan dari nama kakek moyangnya. bagaimana denganku? haruskah aku mengikutinya? nama kakek ku Baekhyun.

"Sam Nighttoad" panggil sang staff. aku maju dengan tenang. wajahku terlihat tenang namun hati dan pikiranku bertolak belakang dengan ekspresiku. aku bingung. aku belum menyiapkan nama apapun. aku melirik sekilas ke arah Sehun. matanya meng-isyaratkan bahwa ia antusias.

"Baek......hyun. Baekhyun" ucapku mantap walau agak tersendat di awalan. Sehun mengangkat sedikit alisnya, entah apa yang membuatnya seperti itu. aku melangkah menuju truk dan duduk berhadapan dengannya.

"Baekhyun? tak kusangka" celetuk Sehun santai sembari menyenggol betisku dengan kakinya.

"kenapa? itu nama kakek moyangku"

"ya, dan Baekhyun dan Sehun itu dulunya berteman"

"benarkah?" ucapku sedikit tak percaya

"ah, tidakkah kau pernah menjelajah dunia jaman dulu dan mengetahui identitas pendahulumu?"

"tidak... aku tidak begitu peduli pada latar belakangku." ucapku santai.

"kau dan Sehun berada dalam satu grup." celetuk Six yang kini bernama Luhan

"ya, dan kau juga" kekeh Sehun

"benar sekali, Kris juga." ucap Luhan sembari melirik ke arah Arthur, yang kini memang bernama Kris.

"kalau tau begini aku tidak akan memakai nama idola dari nenek ku dahulu." ucap Kris santai sembari membaringkan dirinya dan mengusir Max yang sedang asyik dengan komiknya.

"jadi Kris itu bukan nama pendahulumu, tapi nama idolanya nenekmu? hahaha" sembur Kaden tertawa

"ck.. diamlah" decak Kris santai "aku hanya tidak bisa memikirkan nama lain tadi" ucapnya sembari menutup matanya.

semua tertawa. aku memandang keluar, truk kami sudah mulai berjalan.

sett.......................

siluet itu membuyarkan lamunanku. dan kini siluet hitam itu melesat cepat ke hutan disamping jalanan yang sedang kami tempuh. apa itu? aku bisa dibilang bodoh karena tidak berpikiran panjang namun itulah kenyataannya. aku membuka segel truk yang tingginya hanya sepinggangku dan meloncat keluar. semua teman-temanku ribut dan terlonjak. aku merasakan diriku menghempas jalanan. aku menggigit bibir bawahku menahan sakit dibahuku namun rasa sakit itu berkurang seiring dengan membesarnya rasa ingin tauku. sedetik kemudian aku telah berdiri dan dengan tegap berlari ke arah hutan. tujuanku hanya satu. mengejar siluet itu. aku sudah dipusingkan akhir-akhir ini dengan kejadian-kejadian ganjil yang memakan energi berpikirku dan sekarang kemunculan siluet yang seakan akan memata-matai kami. ya, aku berpikir bahwa siluet ini adalah sejenis mata-mata. masa bodoh dengan hantu dan sebagainya. aku tidak percaya itu. kudengar dibelakang teriakan Kris memanggil namaku dan di sela-sela itu aku juga mendengar dirinya menyumpahiku. aku tidak peduli. ia pasti sedang berlari mengejarku sekarang. aku cepat dalam berlari. tidak, kurasa terlalu cepat.

siluet itu tertangkap lagi oleh mataku. kali ini tepat diatas pohon didepanku. ia melesat lagi dengan sempurna ke pohon disampingnya dan melesat lagi ke pohon berikutnya. damn. aku tidak mampu menangkap pergerakannya. aku pernah menyelidiki tentang budaya jepang kuno yang bernama ninja, namun tak kusangka di jamanku hal sejenis itu masih ada. tidak, kurasa ini bukan ninja. kurasa ini tipuan ilusi. sembari berlari aku berusaha mengingat ingat apa saja makanan dan minuman yang kami santap tadi pagi. tidak menutup kemungkinan hal sejenis ini telah direncanakan sejak awal untuk membuat kami berhalusinasi terhadap sesuatu. tapi kenapa hanya aku? aku adalah orang yang makan paling terakhir, seharusnya jika dilogika-kan, satu orang makan dengan kurun waktu kurang lebih 10 menit, seharusnya sejak penamaan tadi setidaknya ada satu orang dari kami bersepuluh yang telah mengalami halusinasi ini, kalau ini memang benar ini halusinasi. aku ingin saja membuang pikiran tentang keberadaan ninja, namun keberadaan kapal 6 tahun lalu........ bukankah itu juga tidak lazim dijaman sekarang? langkah berlariku terhenti. aku terdiam, menarik nafasku yang sengal, peluh menetes dari pelipis, dahi dan rahangku. bisa kupastikan bajuku sangat basah oleh keringat. aku telah berlari terlalu jauh dan terlalu cepat. aku terduduk, bersandar pada satu pohon, mengatur nafasku, meluruskan kakiku dan menutup mataku. berusaha berpikir jernih. semilir angin hutan menerpa wajahku. terdengar derap kaki berlari sejumlah orang dan 5 menit kemudian, Kris, Sehun dan Kaden menghampiriku. aku melihat ke arah mereka dan mengucapkan salam. "hai.. capek?"

Kris geram. ia menggenggam kasar dedaunan kering ditanah dan melemparkannya kasar ke arahku.

"kau benar-benar bodoh!" teriaknya

aku diam saja. aku membereskan, rambutku dari dedaunan itu. Kris lantas mendekatiku dan menarik kerah bajuku dan mengangkat tubuhku.

"apa kau sudah bosan hidup?" teriaknya didepan wajahku. Sehun dan Kaden menenangkannya. ia akhirnya melepaskanku dan menghempaskanku ke tanah.

"aku tidak tau bahwa seorang erudite bisa bertingkah begitu tolol. yang benar saja! jika ingin kabur, bilang saja dari awal. aku tidak keberatan untuk berbuat nakal seperti membolos. tapi tidak begini caranya" omel Kris membahana.

"sudah sudah... Baekhyun, apa yang kau pikirkan?" Kaden menenangkan situasi. sangat khas. dialah orang paling tenang diantara kami. ia menghampiriku dan merangkul bahuku sembari membantuku membersihkan diri dari dedaunan hasil amarah Kris.

"aku akan mencari air" celetuk Sehun lalu melangkahkan kakinya entah kemana.

"aku meyakinkan pihak amity bahwa kita hanya akan menikmati pemandangan dan apa yang kau lakukan tadi hanyalah bagian dari kenakalan remaja yang patut dimaklumi. mereka langsung menyetujuinya. mereka bahkan menyuruh kita bersenang senang dan menikmati masa muda" jelas Kaden.

tak ada tanggapan dariku. aku menerawang jauh ke arah pemandangan diarah utara. entah kenapa hati dan instingku mengatakan ada yang aneh dari gunung itu. Kris nampaknya mengikuti arah pandanganku.

"berencana untuk melayang ke pegunungan itu? kubakar kau" desisnya.

aku menoleh ke arahnya dan tersenyum tenang. "amarahmu sudah mereda? redakan satu level lagi. aku akan menceritakan semuanya ketika Sehun kembali" ucapku sembari menepuk nepuk bahunya.

ia menghembuskan nafas kesal sembari mulai mengomel kembali

"dasar anak tidak berguna. baiklah, kurasa tidak ada gunanya kembali sekarang. kita sudah terlalu jauh masuk ke hutan dan kupikir akan menyenangkan apabila kita bisa menghabiskan sisa hutan ini ketimbang kembali ke lingkungan amity dan membantu mereka memerah sapi" ucapnya. di bagian memerah sapi, ia mengernyitkan hidungnya, membuat Kaden tersenyum kecil.

tak lama Sehun kembali. ia membawa 4 buah batang bambu berukuran sekitaran botol air mineral sedang dan memberikannya masing-masing satu kepada kami. kami berbasa basi mengucapkan terimakasih dan setelahnya ia memberitaukan sesuatu yang amat mengundang jiwa petualangan kami.

"aku merasa diikuti tadi sewaktu di sungai dan mengambil air. juga sebelumnya ketika aku memotong buluh2 bambu ini, juga sebelumnya ketika aku membuat sebuah alat pemotong sederhana dari kayu-kayuan yang kutajamkan di batu di pinggir sungai." ucapnya hati-hati seraya mengamati sekitar

"cepat lanjutkan. kau terlalu banyak membuat jeda dan berbasa basi. langsung saja ke intinya" desak kris tak sabaran. sehun berdecak dan melotot tajam ke arahnya, membuatnya menunduk.

"sabarlah. harus extra hati2." kesalku sembari menyenggol kasar lengan Kris.

"sudah sudah.. sehun, kurasa keadaan aman. kau bisa melanjutkan" ucap Kaden.

"aku merasa diikuti, namun aku bereaksi biasa saja, seolah tak menyadari apa2. ketika aku mengambil air, mataku tertuju pada dua gunung di utara sana" ia menunjukkan jarinya ke arah utara "diantaranya ada asap yang mengepul" jelasnya.

"mungkin petualang amity?" tanya Kaden

"tidak. ini adalah hari selasa. jika hari ini adalah hari senin, mungkin saja perkiraanmu benar karena bisa ditebak mereka belum pulang atau baru hendak pulang dari berlibur akhir pekan. tapi ini adalah selasa. hari dimana semua amity sudah kembali bekerja normal seperti biasanya. ini juga masa-masa sibuk mengingat banyak anak baru amity yang harus dilatih. lagipula, masih sangat pagi untuk rekreasi" jelasku. kurasa tidak ada alasan logis yang membuat para amity itu ber-rekreasi ditengah-tengah hari yang sibuk, bisa saja menyangkalnya dengan alasan amity itu penikmat kesenangan namun bukan itu yang kupikirkan. aku rasa ini menyangkut ke hal lain.

"baiklah..." kris berdiri seraya merenggangkan otot-ototnya "mari berpetualang"

"ya.. sebelum langit gelap" sahutku sembari berdiri yang kemudian diikuti oleh kaden dan sehun. kami menghabiskan sisa minuman dan mulai menelusuri hutan. namun kali ini tidak dengan berlari. kami berjalan sembari sesekali bercanda dan tertawa, namun tetap waspada akan bahaya yang mungkin saja mengintai. terlebih siluet itu. aku benar-benar tidak bisa melepaskannya dari otakku.

kira-kira ada 3 jam kami telah berjalan dan sedang menukik di lembah kecil. dibalik lembah itu ada sebuah sungai. kami bisa tau itu dari adanya suara gemericik air. kami hampir sampai disana sebelum akhirnya kris terhenti dan dengan satu hempasan tangan, ia mendorong kasar kami semua. sehun mengomel sembari menghembus nafas kesal namun mulutnya langsung dibekap oleh kaden. kaden melototkan mata memberi isyarat agar diam. kris menempelkan telunjuk di bibirnya dan meng-isyaratkan agar semuanya diam.

aku mengambil langkah paling depan. kris menarik kerah belakang bajuku namun kutepis dengan sigap sembari terus maju kedepan. aku mengintip dari balik lembah. disana, berbaringlah sesosok manusia. tidak... kurasa bukan manusia. telinganya lebar mencuat. badannya besar dan kelihatannya tinggi. ia memakai stelan seperti ninja kuno, lengkap dengan cadar hitam menutupi wajahnya, ada dua bilah pedang tertancap di sarung yang ia bawa dipunggungnya. tunggu sebentar...... ninja? aku terbelalak. aku mengisyaratkan ketiga orang lainnya untuk mundur perlahan. aku terus mengisyaratkan mereka mundur, tentu saja akupun demikian, sampai kami sudah lumayan jauh, namun aku tetap berbicara dengan berbisik. aku menyuruh mereka agar duduk dan kami membuat suatu rapat dadakan dengan formasi melingkar yang padat. aku membisikkan hal itu pada mereka sekecil mungkin. hal yang bodohnya tak aku sampaikan sedari tadi. aku terlalu fokus kepada cerita sehun sehingga melupakan hal  yang ingin kuceritakan. tentang apa yang membuat aku terjun dari truk. aku menceritakan semuanya lengkap dengan apa yang kulihat barusan. kami semua terlihat berpikir dan menimbang. tentu saja itu kawanan zagigs. elf, mungkin? bisa jadi. namun, kenapa di daerah pelatihan? sepanjang yang aku tau, dan daniel juga sudah menjabarkan peta kawasan amity semalam, tidak ada disebutkan kawasan para zagigs. six juga menambahkan semalam jika tidak ada sejarah zagigs pernah hidup di capitol (wilayah pelatihan para murid). hal ini sangat ganjil. beban di pikiranku bertambah, namun seiring dengan itu, energi ku bertambah karena didesak oleh rasa ingin tau. kami berpikir dan berunding lama sekali, sampai tidak sadar jika matahari kini telah sampai diujungnya. semuanya berpikir dalam hening. tak ada satupun suara. hingga akhirna bunyi perut kris menggema. ia kelaparan. demikian pula kami semua. kami baru sadar kami belum makan apapun sedari tadi.

"aku akan mencari buluh yang bisa didaur menjadi senjata berburu." celetuk kris lalu berdiri

"apa kau gila? 600meter darisini sesosok makhluk tak dikenal sedang berbaring. berhentilah memikirkan masalah perut dikala keadaan seperti ini" sergah sehun kesal

"aku lebih besar darimu, sehun. dan aku yakin kalian bertiga tidak akan mampu membopong mayatku yang telah terkapar karena kelaparan. aku tidak akan mati atau celaka. tenang saja." jelas kris sembari melihat sekitar

"satu pergi, semua pergi." celetuk kaden, yang disambut pandangan heran dari aku, kris dan sehun. "aku serius" tambahnya. "disini aku yang mengambil alih. kris dengan sehun, aku dengan baekhyun. kris dan sehun pergilah berburu binatang atau apa saja yang bisa dimakan. aku dan baekhyun akan mencari air." jelasnya.

"excuse me? siapa yang menjadikanmu ketua disini?" tanya kris protes.

"ya, lagipula aku sangat letih" dukung sehun.

"ikuti saja. lagipula benar apa yang dikatakannya. tidak ada yang menjamin kau akan aman sembari menunggu disini. dua orang lebih baik daripada 1. jangan sok jagoan. jangan keras kepala atau aku akan menghancurkan tengkorak otakmu. ini bukan masalah sok menjadi ketua atau sebagainya, tapi masalah menyelamatkan hidupmu sendiri. semua orang bisa tewas dalam keadaan seperti ini. kau bukan dewa atau kucing buddha yang memiliki 9 nyawa. lagipula kupikir akan memakan waktu lama jika hanya satu orang yang bekerja. jangan banyak bicara dan lakukanlah sesuai apa yang dikatakan kaden jika kau masih ingin pulang dengan selamat." tegasku sembari memandang tajam2 mata kris dan sehun bergantian.

kris dan sehun berbalik badan dan memulai perjalanan mereka dengan tegap sementara aku dan kaden saling berpandangan.

"darimana kita harus memulai?" tanyaku

"kurasa sungai tempat makhluk tadi berbaring dan sungai tempat sehun mengambil air tadi pagi berhubungan. tapi aku tak bisa mendengarnya" jawab kaden.

seeetttttttttttt............
ada pergerakan dari balik pohon, tepat dibelakang kaden berdiri. kali ini aku melihatnya. ya. benar-benar melihatnya, walau hanya sekilas. mata itu merah berkobar bagaikan nyala api unggun ditengah malam.aku membulatkan mataku, terdiam dan membeku. kaden mengguncang bahuku dan bertanya dengan gelisah apa yang sedang terjadi. aku tersadar dan mengisyaratkannya agar diam dengan menginjak kakinya. ia mengerang sedikit sembari memegangi kakinya. aku berjalan mendekati pohon itu. aku mengeraskan rahangku dan mencoba untuk tidak takut walau kakiku agak gentar namun aku terlihat santai menuju pohon itu. aku mengintip kebaliknya, tidak ada apa-apa. tapi ada sebuah benda yang nampaknya sengaja ditinggalkan disitu. sebuah keranjang. aku mengambilnya dan membawanya pada kaden. keranjang itu berukuran agak besar dan kami agak kaget dengan isi didalamnya. 4 potong roti berukuran besar, 4 potong ham dingin, 4 buah kentang rebus yang masih hangat, 4 buah apel dan 4 batang bambu persis seperti yang sehun buat, yang tentu saja berisi air. aku dan kaden saling berpandangan keheranan. namun kami tak menyentuhnya sama sekali, walau kami sangat ingin. kami memutuskan untuk tak menyentuh barang2 itu sampai sehun dan kris kembali. kami meletakkan keranjang itu diantara kami dan kami berbaring di rerumputan lembut itu.

"aku merindukan rumah" celetuk kaden "masakan hangat ibuku dan ceramah singkat ayahku"

"rumah memang objek yang paling dirindukan di masa-masa seperti ini." jawabku

"ya, terlebih jika kau mempunyai kekasih"

"kau mempunyai kekasih?" tanyaku

"ya, dia masuk ke faksi dauntless. sesuai saja, sifatnya pemberani"

"apa dia cantik?" tanyaku lagi

"sangat cantik. namun bukan itu poinnya. aku menyukainya karena sifatnya." seulas senyum terukir di wajah kaden.

aku tertawa kecil "ya, jika kau berbicara masalah kekasihmu, aku berbicara masalah temanku. ah, bukan... kurasa ia lebih dari sekedar teman untukku. dia sudah seperti saudaraku"

"apa kau membicarakan robot buatanmu itu?" tanya kaden

"yap... benar sekali. jika saja ia disini, ia akan tau apa yang harus kita lakukan dan perbuat" renungku

"berbicara masalah rumah dan orang terdekat kita memang membuat suasana menjadi melankolis. kita bahkan lupa akan ketakutan yang sedang kita hadapi" ucap kaden

"ah, kau benar. bagaimana nasib kris dan sehun" celetuk ku sembari terduduk dan menerawang

kami sangat letih menunggu, hingga tanpa sadar kami tertidur. entah berapa lama aku tertidur sampai akhirnya fajar yang membangunkanku. aku menyipitkan mataku. betapa hangatnya mentari pagi. seulas senyum terukir di wajahku hingga aku sadar bahwa aku telah tertidur cukup lama. aku terbangun, terduduk, memastikan bahwa aku baik-baik saja dan belum ada di surga. aku melihat sekeliling, agak tersentak namun lega. sehun dan kris sedang memanggang daging diatas sebuah tungku buatan, dan kaden sedang memotong roti yang kuyakini berasal dari keranjang semalam. namun ada satu lagi wajah yang ikut berkumpul bersama kami. aku tidak mengenalinya sama sekali. sungguh asing. ia berpakaian serba hitam dengan dua bilah pedang disarungkan di pundaknya. wajahnya terlihat bersahabat dan sedang bercanda ria dengan sehun. telinganya mencuat. seketika aku teringat. makhluk didekat sungai itu.

"siapa kau?" selidik ku

"aku? chanyeol. aku seorang elf, nama panggilanku dodit." jelasnya

aku menautkan alisku

"dialah siluet itu, baek. dia menjelaskannya semalaman. kami tidak ingin mengganggu tidur nyenyakmu" celetuk sehun

"baiklah. kalau begitu jelaskan ulang padaku." ucapku sembari mengambil roti dan ham dan memakannya bersamaan

"akulah siluet yang menampakkan diri padamu sehingga membuatmu terjun dari truk. aku rasa kau yang paling pantas ditunjukkan karena kau gerak cepat. jika aku tidak menunjukkan diriku padamu, bisa jadi kalian tidak akan ada disini sekarang. aku menunjukkan diri ada tujuannya. aku ingin meminta bantuan kalian. aku berasal dari kerajaan bawah. dan berjanjilah kalian tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun. aku diperintahkan oleh raja agar mencari 4 orang pemuda divergent untuk membantu kami melaksanakan suatu misi penyelamatan." jelasnya

"misi penyelamatan putri yang terhilang" sambung kaden yang disambut anggukan dari chanyeol

"aku tidak tau. kurasa itu akan membutuhkan waktu yang lama dan kami disini untuk pelatihan" ucapku tak yakin

"sekali kau memasuki gerbang dunia bawah, perbedaan waktu akan segera terjadi. 1 tahun di dunia bawah sama dengan 1 jam di dunia atas. bentuk dunia bawah diatur sedemikian rupa sehingga persis seperti dunia atas, hanya saja disana tidak ada matahari asli. matahari dibawah sana adalah buatan." jelas chanyeol.

"apa itu diketahui penduduk amity disini?" tanyaku

"tidak... kami tidak akan membuka diri jika tidak terdesak. dan mungkin kalian adalah orang2 pertama yang kami ajak ke dunia bawah kali ini" jelasnya sembari mengunyah ham dingin dan kentang rebus

"ajak? kau akan membawa kami kesana?" tanyaku lagi.

"tentu saja, bodoh. bagaimana kau ingin menyelamatkan sang putri jika kau tidak masuk kesana" celetuk kris dengan mulutnya yang penuh dengan daging panggang.

"baiklah. aku mengerti" ucapku.

silhouettekami menghabiskan hari itu dengan ber-istirahat dan menyiapkan perbekalan. karena menurut chanyeol, jalan menuju dunia bawah tidaklah mudah.
aku pikir ini akan menjadi menyenangkan. kau tidak perlu khawatir. cerita ini masih panjang. aku tidak akan berhenti sampai disini. tunggulah chapter selanjutnya.






Kamis, 19 Februari 2015

DIE OR WIN [CHAPTER 2 : REVEAL]

matahari bersinar kuat pagi itu. celah ventilasi kapsul yang terbuka membiarkan cahaya terang itu untuk menyapu lembut wajahku. hari ini adalah hari senin. latihan pertama kami akan dimulai hari ini, dimulai dari distrik Amity. semalam selama di perjalanan, Daniel telah memberikan kami beberapa instruksi untuk pelatihan perdana ini, walau dibalas dengan wajah tak menyenangkan dariku.

aku membuka jendela dan melihat bentangan pemandangan distrik Amity yang memanjakan mata. lembah pegunungan dengan beberapa kebun strawberry dan anggur serta hamparan rumput lembut hijau segar dan disana sini terdapat peternakan yang tersusun rapi. keadaan ini sedikit mirip dengan planetku. ah, aku pikir aku memang sangat merindukan planetku.

"bersiaplah. sejam lagi latihan kita dimulai dan kau bangun paling terakhir"

ucap seseorang. tak lama aku merasa punggungku dihantam selembar handuk. aku menoleh dan yang berucap tadi ialah Arthur. anak itu sudah siap dengan baju latihannya. tak ada secercah semangat pun terpancar dari wajahnya. wajah itu memiliki mata yang sipit dan tajam, ekspresi datar, dan benar-benar tak bersahabat. aku tak bisa menghakiminya atas itu karena aku sendiripun tak berbeda jauh darinya.

aku bukan tipe orang yang ramah dan mau berbasa basi, aku melewatinya dan berjalan santai menuju kamar mandi.

30 menit berlalu dan akupun keluar dari kamar mandi. aku bergegas memakai baju latihan yang terdiri dari celana kargo pendek, sepatu sendal, dan jumper silver. lebih tampak seperti ingin pergi bersantai di pusat kota ketimbang pergi latihan. tapi bisa ku maklumi karna yang akan kami lakukan hanyalah bersenang senang dan bersantai dengan para kaum Amity.

aku keluar dari ruangan tidur kami [ada 10 anak lelaki Divergent di angkatanku dan kami ditumpuk di satu kamar besar dengan ranjang bertingkat] dan menemui bahwa kesembilan anak lelaki lainnya telah siap dimeja makan. aku melirik ke arah meja. menu sarapan pagi ini bergizi. kentang tumbuk, roti, sosis panggang, telur, dan sup sapi serta buah-buahan. aku duduk dan memulai aktivitas makan ku tanpa suara. memang tak ada suara sebelumnya. kebanyakan sibuk dengan pikirannya masing2. disebelah kananku, Ten sibuk mendengarkan lagu melalui earphone nya, disebelah kiriku Arthur menyilangkan tangannya dan bersandar malas pada kursi sembari memeramkan matanya, diujung meja ada Max yang sibuk dengan komiknya, disudut lain ada Six yang sibuk dengan gadgetnya, Kim dengan apelnya, Kaden dengan lamunannya, Ken dengan makanannya, Morty dengan bukunya, dan Alex dengan pensilnya. bisa kupastikan hampir semua dari anak-anak ini memiliki jiwa yang sama sepertiku.

"kudengar hari ini kita akan belajar bertani." suara six memecah kesunyian. tak ada tanggapan.

"besok kita akan bermusik" tetap tak ada tanggapan.

"total keberadaan kita di tiap distrik adalah 18 hari. ada 5 distrik,jadi 18 dikali 5 sama dengan 90. 90 hari sama dengan 3 bulan dan 3 bulan sama dengan 12 minggu. walau begitu, nantinya akan ada seminggu lagi untuk kita merangkum semua hal yang sudah kita pel--"

"tutup mulutmu, habiskan makananmu dan berhentilah mengulang apa yang sudah orang lain tau" potong Arthur menyela penjelasan Six yang memang tak penting karena semua itu sudah dijabarkan semalam oleh Daniel.

"kalian ini seperti patung saja. bersemangatlah sedikit" ucap Six sedikit menggertak

"apa kau punya beberapa informasi tentang pasukan antar-semesta" tanyaku tiba2 pada Six, setelah memastikan di ruangan itu hanya ada kami ber-10.

"maksudmu? well yeah, pasukan antar-semesta memang ada, tapi itu sangat jarang, mengingat kita sudah tak berada di jaman perang" jawabnya.

"dimana keberadaan laut merah itu?"

"laut merah? bagaimana kau bisa tau soal itu?" tanya six agak berteriak. aku pun memukul bagian belakang kepalanya

"diam, bodoh. jika ada orang diluar sana yang mengetahui pembicaraan ini, sebaiknya pakai saja pisau itu untuk bunuh diri" tegasku sembari menghentakkan dagu pada pisau pemotong roti.

"aku berasal dari planet ini, dan perihal mengenai laut merah sangat jarang dikemukakan dihadapan umum. bagaimana kau bisa tau?" tanya Kaden yang nampaknya telah sadar dari lamunannya, ekspresi wajahnya menampakkan wajah ingin tau. dan disitulah aku sadar, nampaknya aku telah salah langkah.

"itu bukan sesuatu yang umum?" tanyaku hati2.

"itu sesuatu yang mistik. tak terjangkau, dan tak terdeteksi." jelas Kaden penuh teka-teki.

"biasakan berbicara itu jelas. aku bukan kaum biru yang pintar menganalisa segala jenis hal" celetuk Arthur.

"well, beberapa ratus atau ribu tahun yang lalu...." Kaden memulai ceritanya yang disambut oleh pandangan antusias dari kami semua, kecuali Max yang tampak tak peduli dan lebih memilih fokus ke komiknya.

"ada teori yang mengemukakan bahwa dunia paralel itu nyata adanya dan telah dibuktikan. di lingkup kehidupan ini, bukan hanya dunia kita yang sedang berlangsung, tapi ada dunia-dunia lain yang juga sedang melangsungkan kehidupan. namun dulu, manusia masih menganggapnya sebagai perbedaan dimensi, bukan dunia utuh. contohnya, kau ditakdirkan menjadi seorang Divergent di dimensi ini. namun di dimensi lain dengan waktu yang sama, kau ditakdirkan sebagai seorang Amity. itulah teori jaman dulu, beda dengan sekarang. namun hal ini masih tabu, setidaknya untuk sekarang. kita bisa saja terbiasa dengan black hole yang menjadi perantara antara kita dijaman sekarang dengan moyang kita dimasa lampau jutaan tahun yang lalu, namun tentang dunia-dunia luar, alam semesta luar, kita belum bisa mengetahuinya. yang jelas, ada suatu portal atau lokasi dimana orang dari dunia-dunia luar tersebut bisa saja datang ke dunia kita ini. aku tau ini karena ayahku bekerja di dewan Divergent" jelas Kaden panjang lebar.

"lalu maksudmu, laut merah itu merupakan suatu portal penghubung, begitu?" tanya Ten antusias.

"aku tak yakin, tapi bisa saja, mengingat laut itu setauku tidak dapat dideteksi dan keberadaannya pun tak jelas dimana. ayahku bekerja di bagian geografis, berulang kali ia dan timnya mengecek berbagai belahan planet namun tak ditemukan juga dimana laut merah itu" jelas Kaden.

"jika aku memberitahu sesuatu yang berhubungan dengan ini semua, bisakah kalian berjanji akan menutup mulut kalian rapat2?" aku berbisik. semuanya mengangguk, bahkan Max pun sekarang sudah antusias.

aku menceritakan semua yang kudengar semalam ketika aku menguping didepan base itu. semua terperangah dan Kaden tampak tidak senang serta gelisah. aku menangkap pergerakannya dan menanyakannya perihal itu.

"jadi inilah waktunya? di angkatanku? sudah kuduga." ucapnya. kami semua bingung dan memaksa Kaden untuk berbicara lebih jelas. raut wajahnya terlihat masam dan keningnya berkerut.

"kita telah dipersiapkan sejak awal." tukasnya.

"pernahkah kalian membuat suatu penemuan tak terduga? yang tak semua anak bisa lakukan. aku seperti itu. aku menciptakan sebuah benih dunia yang besarnya hanya sebesar bola kristal pada umurku yang kesepuluh, dan mengisinya dengan hal2 yang aku sukai, lalu pada tengah malam aku akan meminum serum pengecil badan yang kuciptakan sendiri, dan masuk kedalam benih dunia itu dan berpetualang disana. ayahku tau itu dan ingin memamerkannya di hadapan dewan Divergent namun aku tak mau"

jantungku berdegup. sejenak ingatanku tertuju pada Rob. aku seperti Kaden. aku dan dirinya memang sama2 dari Erudite, tapi ciptaan kami seharusnya adalah ciptaan Erudite dewasa yang sudah berpengalaman dengan ilmu pengetahuan bertahun tahun lamanya.

semua dari kami ternyata begitu, tapi dengan hal yang berbeda beda dan lebih mengejutkan.

Ten, ia menemukan dirinya bisa menguasai keempat elemen kuno, air-bumi-udara-api diumurnya yang kesepuluh. kami awalnya tak percaya namun ia segera mempraktekkannya.

 Arthur, di usianya yang kesepuluh, ia bisa menciptakan suatu jeratan tak kasat mata, tak berbunyi dan tak terdeteksi.

Morty, di usianya yang kesepuluh, ia membuat penemuan, yaitu menulis sesuai pikiran, kau hanya perlu memfokuskan matamu pada kertas, lalu pikiranmu akan tertulis di kertas itu.

Six, di usianya yang kesepuluh ia membuat suatu koneksi jaringan terluas yang bisa mengumpulkan informasi dari berbagai belahan planet tanpa harus pergi ke planet tersebut dan mengakses seluruh data rahasia dari seluruh planet.

Max, di usianya yang kesepuluh, ia membuat sebuah dunia komik. kau hanya perlu memasang sebuah alat dikepalamu, lalu kau hubungkan ke komikmu, lalu kau akan berada di tengah2 komikmu.

Ken, di usianya yang kesepuluh, tiba2 indera penglihatannya bertambah ketika ia bangun di pagi hari, yang memungkinkan dirinya untuk menembak target walau dari jarak berpuluh kilometer.

Alex, di usianya kesepuluh, membuat sebuah alat kecil tak terdeteksi dilengkapi kamera tak kasat mata yang bisa menembus blackhole. ia hanya perlu menyimak keadaan masa2 lampau dari rumahnya tanpa harus menembus blackhole.

Kim, di usianya yang kesepuluh, ia berhasil membuat blackhole buatan yang ia buat menggunakan cermin. ia membuatnya berdasarkan teori blackhole yang ia pelajari secara otodidak. ia bisa pergi kemanapun di masa lampau hanya dari rumahnya.

"6 tahun yang lalu, ketika usiaku sepuluh tahun, aku mendapat informasi rahasia bahwa sebuah kapal tak dikenal mendarat di laut merah" ucap Six, yang sukses membuat kami semua bergidik.

"jika ditelaah kembali, kita membuat semuanya itu ketika umur kita sepuluh tahun. dan 6 tahun lalu ada sebuah kapal tak dikenal. kapal?" raguku. "bukankah dijaman kita sudah tak mengenal yang namanya kapal?"

"analisaku begini" Alex angkat bicara

"kapal itu ancaman. kita ini tumbal" singkatnya.

"apa maksudmu?" tanya Six membelalakkan matanya

"maksudnya adalah..." Kaden menjelaskan "pada waktunya nanti, tak akan lama, kurasa.. kita akan dikirim untuk menyelidiki itu secara rahasia, karena seperti yang kau katakan tadi" Kaden menoleh ke arahku "mereka bilang ada gerakan yang terdeteksi di laut merah, walau tak terdeteksi sempurna, aku yakin itu adalah kapal yang sama. namun kali ini pasti akan ada lebih banyak kapal"

"aku tak yakin dewan Divergent tak tau dimana letak laut merah itu" celetuk Arthur

"ya. mengganjal memang" lanjut Ten.

aku menceritakan pada mereka mengenai perihal kelakuan Rob yang aneh ketika hari keberangkatanku.

"aku yakin memang ada yang disembunyikan" ucap Kaden.

"laut merah tampaknya memang sudah ditemukan, dan sekarang tinggal mengirimkan beberapa orang terlatih untuk mematai tempat itu. ini adalah taktik yang sudah biasa bahkan sejak jaman dahulu" jelasnya "dan orang2 itu nantinya adalah kita. kurasa sekarang terjawab sudah perihal misteri kejadian2 menakjubkan di umur kita yang kesepuluh."

"ya. kalau memang begitu adanya, aku siap saja. demi membela alam semesta dan dunia kita" tegas Arthur lalu berdiri.

"kembali dudukkan bokongmu, Arthur. kurasa kita harus menyiapkan rencana. akan sangat terlambat jika nanti kita menyiapkannya. sadarlah, ini menyangkut hidup dan matimu. kita akan menanyai para gadis itu soal ini, apakah mereka bernasib sama. jika ya, kupikir ini akan menjadi hal yang sangat besar" ucap Six serius.

-TO BE CONTINUED-